Hidup Halina terasa tak tentram, tawa di wajahnya adalah kebohongan, sementara dalam hati selalu gelisah dan menangis. Ia bercerai beberapa kali dengan suami berbeda bangsa, namun tak satu kali pun merasakan kehamilan. Masa tua hanya berteman anjing peliharaannya, tiada anak dan riangnya cucu sebagaimana para manula lain. Inti iklan tersebut ternyata kalimat yang artinya kira-kira “Jangan menyesali hidup seperti jalan hidup Pani Halina, hindari minuman beralkohol dan anjuran untuk tidak merokok”. Hatiku turut berdo’a, semoga hikmah yang diambil Halina lebih dari itu, semoga cahaya hidayah-NYA merasuk ke celah nuraninya. Jalan taubat adalah hal terindah, dan Islam adalah satu-satunya sandaran keselamatan dunia dan akhirat.
Sister Zaynab, dari kota tetangga, yang berkuliah di Krakow, punya wajah mirip si Halina muda. Namun syukur walhamdulillah, jalan masa muda yang dilaluinya berbeda. Sister Zaynab memperoleh petunjukNYA di usia remaja, langsung ikhlas ia tutup auratnya meskipun hijabnya itu adalah model baju teraneh disini. Dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, sister Zaynab mengatakan bahwa sekarang ia sudah hafal semua bacaan setiap gerakan sholat, dan dengan malu-malu ia berucap bahwa membaca ayat Al-Qur’an itu adalah suatu ujian yang sulit, ia sedang belajar mengaji, memahami berbagai rambu-NYA, masih berusaha menjalankan islam secara kaffah.
Allah ta’ala mengingatkan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tiin [95] : 4-6)
Saudari kita lainnya, Husna, teman sister Zaynab yang berusia lebih muda, tahun lalu baru saja lulus ujian masuk ke perguruan tinggi negeri terpopuler di Krakow, yang merupakan universitas ternama di Poland dan Uni-Eropa. Husna memang bercita-cita memasuki PTN itu, katanya, “Kalau lulus dari situ, bea siswa lanjutannya bisa kemana-mana, sist… ke Amrik, ke negara Eropa lainnya, UK, dll, makanya saya senang sekali bisa kuliah di sini…”, ujarnya. Wajar saja, orang tua dan saudaranya telah lama tinggal dan bekerja di Poland, sudah bayar pajak yang besar di negeri ini, Husna merasa bahwa ia harus meraih cita-citanya dengan tidak terlalu membebani orang tua. Saya salut dengan semangatnya, ia bahkan rajin berpuasa selama satu semester penuh sebelum masa pengumuman kelulusan PTN tersebut. Alasan Husna, setiap hari ia lebih percaya diri saat berpuasa. Sekarang Husna sedang bergelut dengan kesibukan pelajarannya, ada rasa bangga juga dalam kalbu, di Krakow saudari muslimah—yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan, memang selalu berprestasi. Husna, kakak dan adiknya tampak selalu mengingat ‘potensi masa muda’, dan pesan orang tua mereka tentang hadits rasul-Nya senantiasa melekat di hati, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam berwasiat,
“Ambillah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Masa Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al-Mustadroknya)








