Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah teladan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Juni 2011

jaln mana yang kau tempuh

Di Tramwajem (kereta api listrik yang cepat dan tertib, di Krakow) yang sudah direnovasi selalu ada beberapa layar televisi yang terletak di langit-langit atas ujung tiap gerbongnya. Para penumpang disuguhi cerita pendek pelawak yang berpantomim, iklan layanan masyarakat tentang info pariwisata, proyek baru kota, peringatan membagi jenis-jenis sampah, dll, atau juga informasi kesehatan dan info rute Tramwajem tersebut.
ilustrasi
Saya jatuh hati pada iklan ajaran moral buat masyarakatnya yang selalu diputar-putar ulang, ditampilkan kisah nyata seorang nenek bernama Halina, sudah keriput, bungkuk, tertatih-tatih dengan tongkatnya. Pani Halina melamun di depan televisi usangnya seraya tampak menyesali diri. Di layar yang ditontonnya adalah kisah yang sama persis dengan masa mudanya dahulu, sebagai Halina muda penari telanjang di berbagai bar terkenal. Halina yang setiap hari bergelimang uang, sibuk menghabiskan harta untuk shopping baju model terbaru, alat-alat make-up, urusan ke salon, bergonta-ganti warna rambut, juga bergelas-gelas minuman beralkohol masuk ke perutnya. Dan entah berapa bungkus rokok ia hisap per-hari yang juga plus sejenis narkotika di dalamnya. Halina tua menitikkan air mata, lalu perlahan ia seka dengan gundah. Ia raba kaki dan lengannya, kulit-kulit rentanya dengan ragam bintik hitam yang dulu sangat kencang dan asyik dipamerkan dengan tawa renyahnya, semakin mengingat usia mudanya yang telah berlalu, maka makin deraslah air matanya.
Hidup Halina terasa tak tentram, tawa di wajahnya adalah kebohongan, sementara dalam hati selalu gelisah dan menangis. Ia bercerai beberapa kali dengan suami berbeda bangsa, namun tak satu kali pun merasakan kehamilan. Masa tua hanya berteman anjing peliharaannya, tiada anak dan riangnya cucu sebagaimana para manula lain. Inti iklan tersebut ternyata kalimat yang artinya kira-kira “Jangan menyesali hidup seperti jalan hidup Pani Halina, hindari minuman beralkohol dan anjuran untuk tidak merokok”. Hatiku turut berdo’a, semoga hikmah yang diambil Halina lebih dari itu, semoga cahaya hidayah-NYA merasuk ke celah nuraninya. Jalan taubat adalah hal terindah, dan Islam adalah satu-satunya sandaran keselamatan dunia dan akhirat.
Sister Zaynab, dari kota tetangga, yang berkuliah di Krakow, punya wajah mirip si Halina muda. Namun syukur walhamdulillah, jalan masa muda yang dilaluinya berbeda. Sister Zaynab memperoleh petunjukNYA di usia remaja, langsung ikhlas ia tutup auratnya meskipun hijabnya itu adalah model baju teraneh disini. Dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, sister Zaynab mengatakan bahwa sekarang ia sudah hafal semua bacaan setiap gerakan sholat, dan dengan malu-malu ia berucap bahwa membaca ayat Al-Qur’an itu adalah suatu ujian yang sulit, ia sedang belajar mengaji, memahami berbagai rambu-NYA, masih berusaha menjalankan islam secara kaffah.
Allah ta’ala mengingatkan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tiin [95] : 4-6)
Saudari kita lainnya, Husna, teman sister Zaynab yang berusia lebih muda, tahun lalu baru saja lulus ujian masuk ke perguruan tinggi negeri terpopuler di Krakow, yang merupakan universitas ternama di Poland dan Uni-Eropa. Husna memang bercita-cita memasuki PTN itu, katanya, “Kalau lulus dari situ, bea siswa lanjutannya bisa kemana-mana, sist… ke Amrik, ke negara Eropa lainnya, UK, dll, makanya saya senang sekali bisa kuliah di sini…”, ujarnya. Wajar saja, orang tua dan saudaranya telah lama tinggal dan bekerja di Poland, sudah bayar pajak yang besar di negeri ini, Husna merasa bahwa ia harus meraih cita-citanya dengan tidak terlalu membebani orang tua. Saya salut dengan semangatnya, ia bahkan rajin berpuasa selama satu semester penuh sebelum masa pengumuman kelulusan PTN tersebut. Alasan Husna, setiap hari ia lebih percaya diri saat berpuasa. Sekarang Husna sedang bergelut dengan kesibukan pelajarannya, ada rasa bangga juga dalam kalbu, di Krakow saudari muslimah—yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan, memang selalu berprestasi. Husna, kakak dan adiknya tampak selalu mengingat ‘potensi masa muda’, dan pesan orang tua mereka tentang hadits rasul-Nya senantiasa melekat di hati, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam berwasiat,
“Ambillah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Masa Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al-Mustadroknya)

Selasa, 02 November 2010

pemuda yang membunuh 100 nyawa

Tobat Pembunuh 100 Jiwa

Dari Abu Sa’id al Khudri diriwayatkan bahwa Nabi s.a.w bercerita:

Dahulu sebelum kalian, ada seorang pemuda yang telah membunuh 99 nyawa. Ia kemudian mencari orang alim, dan ditunjukkan kepadanya seorang pendeta. Iapun mendatanginya. Ia mengatakan kepada si pendeta bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa orang dan menanyakan apakah masih bisa bertobat? Pendeta menjawab, “Tidak”. Pemuda itu segera membunuh si pendeta, dan korbannya pun menjadi 100 jiwa.

Setelah itu, pemuda tersebut mencari seorang alim lagi, dan ditunjukkan kepadanya seorang yang alim. Kepada orang alim itu ia menceritakan bahwa dirinya telah membunuh 100 jiwa. Apa ada kesempatan bertobat? Orang alim itu menjawab,” Tentu! Siapa yang bisa menghalangimu untuk bertobat? Pergilah engkau ke tempat itu– orang alim itu menunjukkan suatu tempat–karena di sana orang-orang melakukan ibadah kepada Allah Swt. Beribadahlah bersama mereka. Janganlah engkau kembali ke negerimu, sebab negerimu adalah tempat yang buruk.” Pemuda itu pun pergi. Namun, tatkala ia berada di tengah perjalanan, maut menjemputnya.

Ketika itu, malaikat rahmat dan malaikat azab bertikai. Malaikat rahmat berkata,” Ia datang sebagai orang yang bertobat dengan mengarahkan hatinya kepada Allah Swt.” Malaikat azab menjawab,” Ia sama sekali belum melakukan kebaikan.” Lalu datanglah satu malaikat dalam rupa manusia untuk menengahi mereka berdua. Ia berkata,”Ukurlah jarak antara 2 daerah itu, kemana ia lebih dekat.” Merekapun mengukurnya. Ternyata tempat kematian pemuda itu lebih dekat ke daerah yang dituju sehasta. Maka malaikat rahmat membawanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

sumber:

Jamilah al-Mashri,Meraih Ampunan Allah: Metode Membersihkan Hati dari Kotoran dan Dosa, Serambi, Jakarta: 2OO4.